Berita 24 Apr 2026 10 views

Kisah Qabil dan Habil Jadi Pesan Anti-Perundungan di MAN 3 Kota Makassar

Program kokurikuler “Jum’at Penyejuk Hati” di MAN 3 Kota Makassar menghadirkan kajian tentang pandangan Islam terhadap perundungan dengan mengambil pelajaran dari kisah Qabil dan Habil dalam Al-Qur’an, sebagai upaya membangun karakter siswa yang berakhlak, saling menghargai, dan menjunjung nilai ukhuwah.

Kisah Qabil dan Habil Jadi Pesan Anti-Perundungan di MAN 3 Kota Makassar
HumasM3M — MAN 3 Kota Makassar kembali menggelar kegiatan kokurikuler “Jum’at Penyejuk Hati” pada Jumat, 24 April 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WITA ini menghadirkan H. Muh. Yusuf, guru Ilmu Tafsir MAN 3 PK Makassar, sebagai pemateri dengan tema “Pandangan Islam Mengenai Perundungan”.

Dalam rangka memperkuat pembinaan karakter dan spiritual peserta didik, MAN 3 Kota Makassar terus mengembangkan berbagai program pendidikan yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. Salah satunya melalui kegiatan kokurikuler “Jum’at Penyejuk Hati”, yang menjadi ruang pendalaman materi keagamaan sekaligus pembentukan nilai-nilai moral bagi siswa.

Program kokurikuler ini dirancang sebagai bentuk penguatan pembelajaran yang terstruktur di luar jam pelajaran utama. Selain menjadi sarana refleksi dan pembinaan karakter, kegiatan ini juga berfungsi sebagai bentuk implementasi kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil ‘Alamin (P5RA) yang tercermin dalam laporan perkembangan siswa pada rapor.

Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa, seluruh guru, serta stakeholder MAN 3 Kota Makassar dengan penuh antusias sebagai bagian dari pembinaan karakter dan spiritual di lingkungan madrasah. Kepala MAN 3 Kota Makassar, H. Zulfikah Nur, menyampaikan bahwa kegiatan “Jum’at Penyejuk Hati” merupakan komitmen bersama madrasah dalam mendukung pembangunan Zona Integritas yang saat ini tengah dijalankan di MAN 3 Kota Makassar.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen kita bersama untuk membangun budaya madrasah yang berintegritas, berakhlak, dan saling menghargai,” ujarnya.

Dalam penyampaiannya, Muh. Yusuf menjelaskan bahwa tema perundungan atau bullying sangat penting untuk dibahas karena berkaitan langsung dengan nilai cinta diri dan cinta sesama manusia. Ia menekankan bahwa Islam sejak awal telah memberikan pelajaran penting tentang bahaya perilaku tersebut melalui kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Salah satu kisah yang diangkat adalah peristiwa antara Qabil dan Habil sebagaimana tercantum dalam QS Al-Maidah ayat 27. Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa ketika keduanya mempersembahkan kurban, kurban Habil diterima oleh Allah, sementara kurban Qabil tidak diterima. Hal itu memicu kemarahan Qabil hingga mengancam saudaranya sendiri.

“Dalam kisah itu, Qabil berkata kepada Habil, ‘Sungguh, aku pasti membunuhmu!’ Ini menunjukkan bentuk perundungan yang lahir dari iri hati dan amarah,” jelas Muh. Yusuf.

Namun, lanjutnya, respons Habil justru menjadi teladan penting dalam menghadapi perlakuan buruk. Habil tidak membalas ancaman tersebut dengan kemarahan, melainkan menjawab dengan penuh kelembutan.

“Habil menjawab, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’ Ini mengajarkan kepada kita bahwa menghadapi keburukan tidak selalu harus dengan balasan yang sama, tetapi dengan kesabaran dan ketakwaan,” tambahnya.

Melalui kegiatan “Jum’at Penyejuk Hati” ini, pihak madrasah berharap para siswa dapat memahami nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya menjaga ukhuwah, menghindari perilaku perundungan, serta menumbuhkan sikap saling menghargai di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!